Produk Gagal Bermerek Jokowi

oleh -270 views

Sumber: Lukas Luwarso, Analis

Politik mirip aktivitas bisnis, intinya adalah “jualan” produk. Seni memasarkan barang atau jasa agar laku. Lazimnya bisnis jualan, memasarkan politik perlu merek agar barang atau jasa laku. Merek adalah simbol agar mudah dikenal dan dijual. Jokowi adalah merek bisnis politik yang pernah sangat populer. Merek ini berhasil “menyihir” konsumen Indonesia, bahkan sampai manca negara. Majalah Time pernah menjadikannya cover utama dengan judul “a new hope”, harapan baru bagi Indonesia.

Kenapa Jokowi pernah dianggap dianggap sebagai harapan baru? Karena sebagai merek politik ia cukup “otentik dan orisinil”. Selain berasal dari kalangan rakyat biasa (produk industri politik rumahan—bukan darah biru politik—sebelum diakuisisi oleh PDIP), ia juga memikat publik dengan tampang ndeso, aksi-aksi blusukan, masuk gorong-gorong. Ketidaklaziman aksi-aksi politik yang tidak terpikirkan oleh para politikus aristokrat.

Baca Juga  KPK Mulai Telaah Dugaan Korupsi Beasiswa Rp13 Miliar di UMI Makassar

Jokowi membawa suasana baru setelah 10 tahun sebelumnya Indonesia dibombardir wacana “galau dan prihatin” era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagai produk politik, SBY memang berasal dari aristokrasi militer, dan dikenal dengan gaya jaim, formalis, protokoleris. Tipikal produk politik old-school, elitis, intelektualis, yang mulai kehilangan daya pikat di era baru, era media sosial.

No More Posts Available.

No more pages to load.