Benar saja. Ibu menatapku tajam saat aku keluar dari mushola mungil kami. Ruangan tanpa pintu yang disiapkan ibu khusus untuk sholat berjamaah. Ibu lebih suka mengajak kami berjamaah kecuali aku, ibu sering menyuruhku ke masjid mengingat aku sudah baligh. Artinya aku bukan anak-anak lagi.
“Jangan dibiasakan menunda sholat. Tidak baik untuk akhirat.”
“Maaf, Bu. Tadi, langit cukup gelap. Jadi, Aqsa bergegas pulang.”
Ibu hanya diam tidak menanggapi. Tangannya sibuk mengemas peyek kacang. Dua adikku turut membantunya. Aku pun mengerjakan bagianku menatanya dalam toples dan memberinya label.
Hari ini, ibu pasti kerja keras. Gunungan baju di meja setrika yang kulihat tadi pagi telah tersusun rapi meskipun hanya dilipat saja, tidak disetrika. Tidak kulihat tumpukan baju Alena dan Aisya. Mereka pasti sudah memasuknya ke dalam lemari karena kulihat sekilas tumpukan itu, semua bajuku. Ubin telah glowing macam pakai skincare. Rasa-rasanya, ibu semakin rajin. Sangat berbeda ketika tinggal di rumah nenek. Tentu itu membuat kami senang. Aku pernah membahasnya dengan Alena dan Aisya.
Setiap hari, selepas subuh ibu memasak untuk kami. Awalnya, ibu memaksa kami untuk makan masakannya. Harus dicoba baru boleh bilang gak suka. Kami terpaksa memakannya meskipun aneh rasanya. Kami terbiasa dengan telur ceplok dan telur orak-arik saja. Selain untuk sarapan, ibu juga menyiapkan bekal makan siang kami. Pernah suatu kali, aku memberikan bekalku kepada temanku. Sementara itu, aku membeli bakso di kantin sekolah. Di luar dugaanku, dia memuji masakan ibu. Seingatku ibu memberi bekal gado-gado, makanan full sayur. Sejak saat itu, aku mencoba berdamai dengan masakan ibu. Setidaknya, aku belajar menghargai ibu yang telah bersusah payah memasak untuk kami.









