Kemiskinan bukan sekadar angka pendapatan. Kesejahteraan bukan sekadar konsumsi. Keamanan bukan sekadar statistik kriminalitas.
Keadilan bukan sekadar jumlah perkara yang selesai. Kepercayaan bukan sekadar skor survei.
Data penting. Tetapi data bukan seluruh kenyataan.
Karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih luas: evidence-based policy yang sekaligus reality-based.
Kebijakan harus berbasis data, tetapi datanya harus mampu menangkap kenyataan sosial.
Dekolonisasi Bukan Berarti Anti-Barat
Di sini kita harus hati-hati.
Membicarakan dekolonisasi pengetahuan tidak berarti kita harus membuang semua teori Barat.
Itu sama kelirunya dengan menganggap semua tradisi lokal pasti benar.
Tidak. Kita harus membaca dunia. Weber penting. Marx penting. Durkheim penting. Rawls penting. Foucault penting. Ostrom penting. Amartya Sen penting.
Berbagai teori dan pengalaman negara lain penting. Tetapi kita harus membacanya dengan kepala Indonesia.
Teori asing harus menjadi partner dialog. Bukan majikan.
Kita mengambil yang berguna. Mengkritik yang tidak sesuai.
Mengubah yang perlu diubah. Menggabungkannya dengan pengalaman kita.
Dan kalau diperlukan, menciptakan teori baru.
Dari Pengimpor Teori Menjadi Penghasil Teori
Inilah mungkin perubahan paling penting yang harus dilakukan.
Indonesia harus bergerak dari:
importing theory menuju: producing theory.









