Salah Asuhan Penyebab Indonesia Karut-Marut

oleh -3 Dilihat

Kemiskinan bukan sekadar angka pendapatan. Kesejahteraan bukan sekadar konsumsi. Keamanan bukan sekadar statistik kriminalitas.
Keadilan bukan sekadar jumlah perkara yang selesai. Kepercayaan bukan sekadar skor survei.

Data penting. Tetapi data bukan seluruh kenyataan.

Karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih luas: evidence-based policy yang sekaligus reality-based.

Kebijakan harus berbasis data, tetapi datanya harus mampu menangkap kenyataan sosial.

Dekolonisasi Bukan Berarti Anti-Barat

Di sini kita harus hati-hati.

Membicarakan dekolonisasi pengetahuan tidak berarti kita harus membuang semua teori Barat.

Itu sama kelirunya dengan menganggap semua tradisi lokal pasti benar.

Tidak. Kita harus membaca dunia. Weber penting. Marx penting. Durkheim penting. Rawls penting. Foucault penting. Ostrom penting. Amartya Sen penting.

Baca Juga  Membongkar Anomali Hari Jadi Kota Ambon: 7 September 1575 atau 25 Maret 1576?

Berbagai teori dan pengalaman negara lain penting. Tetapi kita harus membacanya dengan kepala Indonesia.

Teori asing harus menjadi partner dialog. Bukan majikan.

Kita mengambil yang berguna. Mengkritik yang tidak sesuai.

Mengubah yang perlu diubah. Menggabungkannya dengan pengalaman kita.

Dan kalau diperlukan, menciptakan teori baru.

Dari Pengimpor Teori Menjadi Penghasil Teori

Inilah mungkin perubahan paling penting yang harus dilakukan.

Indonesia harus bergerak dari:
importing theory menuju: producing theory.

No More Posts Available.

No more pages to load.