Ketika Teori Datang Sebelum Kenyataan
Ilmu semestinya lahir dari kenyataan. Manusia menghadapi masalah. Ia mengamati. Ia mencari pola. Ia membangun konsep. Konsep diuji. Dari sana lahir teori. Teori kemudian digunakan kembali untuk membaca dan mengubah kenyataan.
Tetapi dalam banyak bidang kehidupan Indonesia, proses itu sering terbalik. Teori dari luar datang lebih dahulu. Kenyataan diminta menyesuaikan diri.
Kita mengambil konsep demokrasi, birokrasi, negara hukum, pembangunan, administrasi publik, good governance, ekonomi kelembagaan, reformasi, dan berbagai konsep lainnya dari pengalaman masyarakat lain.
Tidak ada yang salah dengan belajar dari luar. Yang salah adalah ketika apa yang datang dari luar diperlakukan sebagai ukuran universal yang tidak perlu lagi diuji terhadap kenyataan setempat.
Akibatnya, ketika teori tidak cocok dengan kenyataan, yang dianggap salah sering kali justru kenyataannya.
Masyarakat dianggap belum modern. Budaya dianggap menghambat pembangunan. Adat dianggap tradisional. Musyawarah dianggap tidak efisien. Gotong royong dianggap sekadar romantisme budaya.
Padahal bisa jadi persoalannya sederhana: bukan masyarakat yang tidak sesuai teori, melainkan teori yang belum cukup memahami masyarakat.
Peci Kekecilan, Kepala yang Dipaksa Mengecil
Bayangkan seseorang membeli peci yang ternyata terlalu kecil. Peci itu tidak muat.









