Ada tradisi yang adil. Ada yang tidak adil. Ada yang relevan. Ada yang sudah tidak relevan. Ada yang harus diperbaiki. Ada yang harus ditinggalkan.
Demikian pula modernitas. Tidak semuanya harus ditolak.
Karena itu pilihan kita bukan: tradisi atau modernitas.
Pilihan kita adalah: tradisi + kritik + ilmu modern + pengalaman empiris + nilai kemanusiaan.
Kita tidak perlu kembali ke masa lalu. Kita perlu kembali kepada kenyataan.
Itu berbeda. Kembali ke masa lalu adalah romantisme. Kembali kepada kenyataan adalah keberanian.
Yang Diperlukan Bukan Sekadar Reformasi, Melainkan Revolusi Epistemologis
Karena itu, Indonesia mungkin tidak hanya membutuhkan reformasi birokrasi.
Indonesia membutuhkan reformasi cara berpikir tentang birokrasi.
Kita tidak hanya membutuhkan reformasi hukum.
Kita membutuhkan reformasi cara berpikir tentang hukum.
Kita tidak hanya membutuhkan reformasi pendidikan.
Kita membutuhkan reformasi tentang apa yang kita anggap sebagai pengetahuan.
Kita tidak hanya membutuhkan pembangunan.
Kita membutuhkan keberanian untuk bertanya: Pembangunan berdasarkan pengetahuan siapa?
Dengan ukuran siapa? Untuk siapa? Dan sesuai dengan realitas siapa?
Inilah revolusi epistemologis yang sebenarnya.
Bukan revolusi untuk menolak dunia. Justru sebaliknya. Membaca dunia lebih banyak.









