Secarik Rindu di Atas Kertas

oleh -42 views
Link Banner

Cerpen Karya: Anindita Sitaresmi

Dua belah bibir bisa berkata iya tetapi dalam lubuk hati tidak bisa dibohongi. Seketika saat itu juga ia teringat pada serpihan memori, memori kelam. Sekelam manik hazel itu menatap kosong lurus ke depan saat ini. Kenangan pahit mendalam yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupnya.

Sejenak ia berusaha menatap seseorang yang sedang berada dihadapannya. Berusaha agar tetap terlihat tegar dan kuat.
Gadis itu menundukkan kepalanya, perlahan ia mulai menitikkan air matanya dan terisak dalam diam. Angga sadar akan hal itu. Ada setitik rasa bersalah ketika ia berkata seperti itu barusan. Angga merangkul pundak gadis itu, dan menyandarkan kepala pada pundaknya, mengelus pelan surai lembutnya berusaha untuk menenangkan,

Sejujurnya Angga tidak terlalu tahu harus melakukan apa untuk menghibur orang yang sedang sedih. Ini juga kesalahannya, ia tidak berpikir hal itu akan membuat gadis dihadapannya teringat kembali.

Sesuatu hal yang sangat menyayat hati bagi gadis itu, tapi bukan berarti hal itu menjadi penghambat untuknya melupakan yang lalu. Aluna Divya Saskara namanya, nama yang cantik. Surai hitamnya yang bergelombang menambah kesan anggun di dalam dirinya. Usapan halus tak berhenti terasa. Dalam keheningan dengan hembusan angin yang sejuk dibawah pohon rindang menyapu kulit. Helaian surainya tak berhenti bergelantung indah menutupi samar wajahnya. Hanya hembusan angin yang kuat membuat dedaunan menari nari diatas batangnya.

Perlahan laki laki itu merogoh sesuatu dalam tasnya, dan mengeluarkan selembar kertas. Terlihat seperti kertas usang, yang sudah agak kecoklatan. Seperti kertas jaman dulu. Dan sebuah bolpoin hitam.
Ia menyodorkan pada gadis dihadapannya. Entah apa tujuannya, sehingga Aluna hanya bisa menatap polos dengan raut bertanya, laki laki itu terkekeh pelan

“Kamu tahu, aku dulu pernah mendengar. Entah siapa yang mengatakannya aku lupa. Kalau kamu rindu dengan seseorang, tapi kamu tahu rindu itu tidak akan tersampaikan pada tuannya. Selain doa, kamu bisa menuangkannya pada secarik kertas. Ya istilahnya menulis surat untuk seseorang yang dirindukan. Aku sudah sering melakukannya kadang membuatku sedikit lega, dan aku ingin kamu juga”

Aluna tersenyum tipis setelah mendengarnya, dengan hiasan sisa bulir bening yang masih bertengger di pipinya yang merah alami. Jujur saja, selama ini ia belum pernah menulis surat untuk siapapun. Tapi untuk hal ini sepertinya memang benar. Tidak ada salahnya ia mencoba. Tangan lentiknya mulai menari-nari diatas kertas tersebut. Menjejahi setiap sudut kertas.

Kepada kamu yang selama ini sudah menemani
Hai, apa kabar kamu disana?
Kamu sudah enggak merasakan sakit lagi kan??
Aku senang kalau kamu sudah tenang dan bahagia disana. Oh iya sebelumnya kamu pasti heran melihatku dari atas sana Seorang Aluna menulis surat. Mungkin itu menjadi sesuatu hal yang sangat lucu kalau kamu ada disini, bisa juga menjadi bahan usilan kamu buat ngejek aku hahaha.

Kamu kan tahu banget ya, aku jangankan membuat surat, disuruh nulis saja malasnya bukan main. Kamu kayanya sampai hafal semua tabiatku. Lucu jika diingat-ingat. Tapi sedih juga karena dihadapkan oleh kenyataan sekarang
Rumahku udah gak ada. Siapa yang bisa aku jadikan rumah setelah ini?

Pulang? Yang disebut rumah itu hanya sekedar nama untuk tempat tinggal aja.
Aku boleh jujur gak?
Bisa dihitung dengan jari, hanya beberapa minggu setelah aku dihadapkan sama kenyataan ini, pikiranku melanglang buana. Aku merasa udah gak punya siapa siapa disini
Mama papa? Tanpa aku bilang kamu pasti udah tau ya, mereka udah gak nganggap aku ada di dunia ini. Aku dulu sempat nyerah. Kedengerannya alay banget ya hahaha. Maaf kalau aku anaknya cengeng, aku gak bisa hidup sendirian disini. Bukan berarti aku gak bisa mandiri. Aku cuma butuh tempat bersandar untuk menopang dikala aku jatuh, aku cuma butuh rumah untuk aku berpulang.

Setelah ini siapa yang aku bisa ajak bertukar cerita?
Kamu tahu Angga kan? dia baik. Anaknya ramah enggak kaku juga kok, kata kamu dia orangnya kaku, mana enggak ada ngaco kamu ya. Dia bukan juga semua yang kamu bilang. Aku cuma pengen kamu gak salah paham sama dia.

Wah aku enggak tau nih harus nulis apalagi. Terlalu banyak yang mau aku certain nih sama kamu.
Enggak kebendung sama air mataku yang berlomba-lomba ingin keluar.
Kalau gitu, aku enggak mau banyak bilang apa apa lagi, selain kata ini yang belum sempat aku lontarkan dan tersampaikan sama kamu. Terimakasih karena sudah mencintaiku, maaf aku tidak bisa membalasnya.
Kamu bisa beristirahat dengan tenang, aku bisa bahagia disini walaupun tanpa adanya kehadiran insan seperti kamu.
Aku titip doa. Sekali lagi terimakasih atas semuanya.

Jari-jari mungilnya berhenti menulis. Maniknya menatap sedih pada kertas itu. Seakan alam sedang turut serta menemani suasana yang kalbu. Cahaya sang surya meredup, bersembunyi dibalik awan abu menyelimuti.

“Maaf jika membuat kamu teringat kembali, tetapi ada satu hal yang sedari lama ingin sekali aku berikan. Itupun jika kamu bersedia membacanya”
“Dengan senang hati” ucap Aluna lembut. Awalnya ia sedikit merasa bingung kenapa laki-laki dihadapannya memberikan semacam surat dengan balutan amplop merah tua.

Aku melihat ciptaan Tuhan yang sangat manis sedang mengajak bicara seekor burung. Dari kejauhan ia tampak sangat antusias, burung itu seolah menanggapi dengan tak kalah sama. Mereka adalah dua makhluk ciptaan Tuhan termanis yang pernah kulihat.
Salah satunya si pemeran utama yang paling menarik hati saat pertama kali melihatnya, siapa dia?
Sejak saat itu, wajah manisnya sudah termaktub dalam sang Amigdala. Ketika wajahnya terhias oleh lengkungan senyumnya yang damai, entah kenapa membuat hati terguncang setelah sekian lama terasa tak berfungsi
Kenaikan ritme getarannya semakin bertambah hingga tak karuan, bukan tanpa alasan. Aku rasa aku kembali bertemu dengannya. Untuk yang kedua kalinya
Dua kali? Hebat sekali dia
Pertemuan yang tak bertampik membawa pengaruh hebat. Aku tidak mau langsung menghardik bahwa itu benar adanya

Suatu ketika, ditengah aku yang menikmati hiruk-pikuk manusia berlalu lalang di lorong fakultas
Aku tak sengaja mendengar alunan suara merdu seakan magnet yang menarikku untuk mencari sumber suara itu. Setelah mengetahuinya tak kusangka itu adalah seseorang yang mengisi bayang-bayang telah lama kosong.
Dengan segala keberanian yang kupunya akhirnya aku berani menghampiri dan berdiri di sebelahmu. Senyum tipismu terukir disana, aku sedikit kikuk melihatnya. Tak pernah ku berada di suasana seperti ini
Dan dengan lancangnya bibir ini membuka sebuah ruang hingga menciptakan suara dan rentetan kata yang telah lama ingin sekali terlontarkan, “siapa namamu?”

Dan saat itu juga akhirnya aku mengetahui namanya Aluna, nama yang manis. Terkadang aku merasa aneh dengan diri sendiri, kenapa aku menjadi sangat klise seperti ini
Barang sedetik saja hati seakan menyorakan namanya terus menerus, mungkin hati ini rindu?

Semakin hari aku terlihat konyol dihadapan teman temanku, bahkan diantara mereka sudah mengangapku gila. Percaya atau tidak sepertinya aku sudah tahu jawabannya. Dan ya mungkin tanpa kusebutkan secara eksplisitpun kamu sudah mengerti
Terlalu banyak jika kusebutkan satu persatu, mungkin saja kamu bosan membaca hal klise seperti ini.
Aku tidak ingin banyak mengatakan omong kosong
Aku ingin berani mengatakannya, aku mencintaimu aluna
– Tertanda resmi dari Anggara

Maniknya berhenti bergerak setelah membaca bait terakhir. Bisa ia rasakan kali ini suasananya terasa sangat berbeda
“Kamu yang menulisnya sendiri?”
Angga tersenyum tipis, “kamu sudah tahu jawabannya, menurutku itu adalah pertanyaan retoris bukan? Tapi tak apa aku mengerti. Kamu hanya ingin memastikannya bukan? Jawabannya adalah iya. Itu bukan lagi pernyataan cinta, itu pernyataan rindu”
Aluna tidak tahu harus mengatakan apa, ia tersenyum lirih
Perasaannya campur aduk saat ini.

“Aku tidak ingin kamu terbebani oleh pernyataanku beberapa saat yang lalu, biarkan keadaan dan waktu yang mengatur skenario kedepannya. Ketahuilah bahwa itu adalah sebuah pernyataan bukan pertanyaan, jadi jangan terlalu dipikirkan. Aku senang jika melihatmu bahagia, apalagi jika aku adalah salah satu alasanmu untuk tersenyum kembali”

Lagi lagi bulir bening berhasil lolos turun membasahi pipi Aluna, masih dengan senyuman lirihnya. Apa yang ingin disampaikan seolah tercekat.

“Mungkin benar katamu tadi, bagaimana skenario kedepannya lah yang membuat kita mengetahui jawabannya. Hanya itu yang bisa kukatakan saat ini” Pelukan hangat menjadi penutup dari suasana ini. Perasaan cinta memanglah permasalahan irasional yang sulit ditebak, apapun yang dirasakannya menjadi sebuah alasan seseorang untuk menjadi penyakit yang sukar dibendung. Contohnya kerinduan. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.