Suatu ketika, ditengah aku yang menikmati hiruk-pikuk manusia berlalu lalang di lorong fakultas
Aku tak sengaja mendengar alunan suara merdu seakan magnet yang menarikku untuk mencari sumber suara itu. Setelah mengetahuinya tak kusangka itu adalah seseorang yang mengisi bayang-bayang telah lama kosong.
Dengan segala keberanian yang kupunya akhirnya aku berani menghampiri dan berdiri di sebelahmu. Senyum tipismu terukir disana, aku sedikit kikuk melihatnya. Tak pernah ku berada di suasana seperti ini
Dan dengan lancangnya bibir ini membuka sebuah ruang hingga menciptakan suara dan rentetan kata yang telah lama ingin sekali terlontarkan, “siapa namamu?”
Dan saat itu juga akhirnya aku mengetahui namanya Aluna, nama yang manis. Terkadang aku merasa aneh dengan diri sendiri, kenapa aku menjadi sangat klise seperti ini
Barang sedetik saja hati seakan menyorakan namanya terus menerus, mungkin hati ini rindu?
Semakin hari aku terlihat konyol dihadapan teman temanku, bahkan diantara mereka sudah mengangapku gila. Percaya atau tidak sepertinya aku sudah tahu jawabannya. Dan ya mungkin tanpa kusebutkan secara eksplisitpun kamu sudah mengerti
Terlalu banyak jika kusebutkan satu persatu, mungkin saja kamu bosan membaca hal klise seperti ini.
Aku tidak ingin banyak mengatakan omong kosong
Aku ingin berani mengatakannya, aku mencintaimu aluna
– Tertanda resmi dari Anggara









