Maniknya berhenti bergerak setelah membaca bait terakhir. Bisa ia rasakan kali ini suasananya terasa sangat berbeda
“Kamu yang menulisnya sendiri?”
Angga tersenyum tipis, “kamu sudah tahu jawabannya, menurutku itu adalah pertanyaan retoris bukan? Tapi tak apa aku mengerti. Kamu hanya ingin memastikannya bukan? Jawabannya adalah iya. Itu bukan lagi pernyataan cinta, itu pernyataan rindu”
Aluna tidak tahu harus mengatakan apa, ia tersenyum lirih
Perasaannya campur aduk saat ini.
“Aku tidak ingin kamu terbebani oleh pernyataanku beberapa saat yang lalu, biarkan keadaan dan waktu yang mengatur skenario kedepannya. Ketahuilah bahwa itu adalah sebuah pernyataan bukan pertanyaan, jadi jangan terlalu dipikirkan. Aku senang jika melihatmu bahagia, apalagi jika aku adalah salah satu alasanmu untuk tersenyum kembali”
Lagi lagi bulir bening berhasil lolos turun membasahi pipi Aluna, masih dengan senyuman lirihnya. Apa yang ingin disampaikan seolah tercekat.
“Mungkin benar katamu tadi, bagaimana skenario kedepannya lah yang membuat kita mengetahui jawabannya. Hanya itu yang bisa kukatakan saat ini” Pelukan hangat menjadi penutup dari suasana ini. Perasaan cinta memanglah permasalahan irasional yang sulit ditebak, apapun yang dirasakannya menjadi sebuah alasan seseorang untuk menjadi penyakit yang sukar dibendung. Contohnya kerinduan. (*)









