Perlahan laki laki itu merogoh sesuatu dalam tasnya, dan mengeluarkan selembar kertas. Terlihat seperti kertas usang, yang sudah agak kecoklatan. Seperti kertas jaman dulu. Dan sebuah bolpoin hitam.
Ia menyodorkan pada gadis dihadapannya. Entah apa tujuannya, sehingga Aluna hanya bisa menatap polos dengan raut bertanya, laki laki itu terkekeh pelan
“Kamu tahu, aku dulu pernah mendengar. Entah siapa yang mengatakannya aku lupa. Kalau kamu rindu dengan seseorang, tapi kamu tahu rindu itu tidak akan tersampaikan pada tuannya. Selain doa, kamu bisa menuangkannya pada secarik kertas. Ya istilahnya menulis surat untuk seseorang yang dirindukan. Aku sudah sering melakukannya kadang membuatku sedikit lega, dan aku ingin kamu juga”
Aluna tersenyum tipis setelah mendengarnya, dengan hiasan sisa bulir bening yang masih bertengger di pipinya yang merah alami. Jujur saja, selama ini ia belum pernah menulis surat untuk siapapun. Tapi untuk hal ini sepertinya memang benar. Tidak ada salahnya ia mencoba. Tangan lentiknya mulai menari-nari diatas kertas tersebut. Menjejahi setiap sudut kertas.
Kepada kamu yang selama ini sudah menemani
Hai, apa kabar kamu disana?
Kamu sudah enggak merasakan sakit lagi kan??
Aku senang kalau kamu sudah tenang dan bahagia disana. Oh iya sebelumnya kamu pasti heran melihatku dari atas sana Seorang Aluna menulis surat. Mungkin itu menjadi sesuatu hal yang sangat lucu kalau kamu ada disini, bisa juga menjadi bahan usilan kamu buat ngejek aku hahaha.









