Sejarah Asal-usul Penamaan Morotai

oleh -1,947 views

Ungkapan Portugeschen vesper yang disebutkan Van Hoevell di atas, oleh para sejarawan Eropa menulis; ‘Kidung Senja Portugis di Kepulauan Maluku’, yang bermakna akhir kekuasaan Portugis di Kepulauan Maluku akan segera terwujud.

Alasan utama kebencian Sultan Khairun dari Ternate kepada Portugis yaitu, kematian ibunda tercintanya secara tidak wajar (didorong dari lantai dua rumahnya oleh tentara Portugis) sesaat sebelum Khairun dilantik sebagai sultan Ternate, dan alasan kebencian kedua adalah para misionaris Portugis dengan bebas melakukan program Kristenisasi di Utara Halmahera (termasuk orang Moro) yang membuat Khairun sangat tersinggung karena selain sebagai sultan, Khairun juga merupakan salah seorang pemimpin kaum Muslimin di Maluku bergelar Amirul Mukminin dengan wilayah kekuasaannya tercakup juga di bagian Utara Halmahera.

Baca Juga  Unpatti Wisuda 1.036 Lulusan, Perkuat Capaian IKU Menuju World Class University

Para Imam Jesuit Portugis tidak transparan dalam laporan mereka ke pusat kekuasaannya yang berkedudukan di Goa (India) terkait mengapa peristiwa di Utara Halmahera tersebut harus terjadi (lihat karya M. Ridha Ajam dkk, 2014 : 8 – 9). Ketidakjujuran laporan Imam Jesuit Portugis juga terekam dalam karya Eka Krisdayanti Papua (2019).

Eka Krisdayanti Papua (2019), menjelaskan bahwa masyarakat Tobelo memiliki persepsi tersendiri mengenai orang Moro. Menurut Eka, orang Moro memiliki daging dan struktur masyarakatnya seperti layaknya manusia biasa. Pada masa Portugis, orang Moro menghilang karena merasa terbebani dan tidak mampu membayar pajak/blasting (Balahiteng) kepada sultan Ternate sehingga memutuskan untuk menghilang di hutan Halmahera dan menyatu dengan alam atas izin Tuhan. Peristiwa tersebut menjadi sebuah kisah bagi masyarakat Tobelo, bahkan Halmahera.

No More Posts Available.

No more pages to load.