Dalam pelaksanaannya, Sultan Muzhaffar menggelar peringatan megah dengan mengundang para ulama, ahli tasawuf, cendekiawan, serta seluruh lapisan masyarakat. Momentum ini diisi dengan penyajian hidangan, pembagian hadiah, dan penyaluran sedekah secara masif kepada fakir miskin.
3. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi / Muhammad Al-Fatih
Teori ketiga mengemukakan perayaan Maulid Nabi dicetuskan oleh panglima perang legendaris Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (atau dalam beberapa riwayat dihubungkan dengan Sultan Muhammad Al-Fatih). Tujuan utamanya saat itu bersifat taktis dan spiritual, yakni membakar kembali semangat jihad umat Islam dalam menghadapi Perang Salib guna merebut kembali Yerusalem.
Perkembangan Tradisi Maulid di Nusantara
Di Indonesia, tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki akar sejarah yang kuat sejak zaman dakwah Wali Songo sekitar tahun 1404 Masehi. Para ulama penyebar Islam di Tanah Jawa memanfaatkan momentum ini sebagai sarana kultural untuk merangkul hati masyarakat lokal agar mengenal dan memeluk agama Islam secara damai.
Pendekatan persuasif ini melahirkan istilah Perayaan Syahadatin (atau Sekaten). Selain itu, tradisi ini juga dikenal luas dengan sebutan Gerebeg Maulud, di mana masyarakat mengekspresikan rasa syukur dan penghormatan kepada Nabi melalui prosesi adat berupa pengarakan tumpeng nasi gunungan.









