Lebih lanjut, berdasarkan buku Kisah Para Nabi susunan Ibnu Katsir, menambahkan bahwa ada yang berpendapat istri Nabi Luth ikut pergi bersama keluarganya, namun di perjalanan ia menoleh ke arah kaumnya meski sudah dilarang. Saat itu, ia menjerit memanggil kaumnya, hingga akhirnya tertimpa azab berupa batu panas yang menghancurkan dirinya.
Diriwayatkan pula bahwa istri Nabi Luth sering berperan sebagai mata-mata bagi kaumnya. Ia membocorkan kedatangan tamu Nabi Luth yang sebenarnya malaikat, sehingga semakin jelas keterlibatannya dalam persekongkolan jahat kaum Sodom.
Dua kisah ini menjadi pengingat bahwa hubungan keluarga dengan orang saleh, bahkan seorang nabi sekali pun, tidak menjamin keselamatan bila tidak disertai iman. Allah SWT menegaskan bahwa setiap hamba bertanggung jawab atas amalnya sendiri.
Istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth menjadi contoh buruk bagaimana kedekatan dengan orang-orang yang mendapat hidayah tidak berguna bila seseorang menolak kebenaran.
Sumber: detikhikmah










