Soroti Ucapan “Monyet” kepada Mahasiswa Seram, Alhidayat Wajo: Kemerdekaan Tak Boleh Diikuti Penghinaan

oleh -17 Dilihat
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku Alhidayat Wajo mengatakan, siapa pun yang berhadapan dengan masyarakat, baik pejabat, ajudan maupun pihak lainnya, tetap memiliki kewajiban menjaga etika komunikasi dan menghormati lawan bicara.

Porostimur.com, Ambon – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8/2026), diwarnai insiden yang melibatkan seorang mahasiswa asal Pegunungan Seram Utara, Will Ropena.

Will disebut datang membawa pesan dari tetua adat kawasan Pegunungan Manusela untuk disampaikan kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa. Namun, upayanya menemui gubernur disebut terhalang oleh seorang pria yang disebut sebagai ajudan gubernur, bernisial R.

Peristiwa itu kemudian menjadi perhatian publik setelah rekaman video beredar di media sosial. Dalam video tersebut terdengar sejumlah ucapan yang dinilai merendahkan, di antaranya kata “bodok”, “monyet”, dan “tahu etika”.

Belum ada keterangan resmi mengenai konteks utuh percakapan maupun penjelasan dari pihak yang disebut dalam video. Namun, rekaman tersebut telah memicu reaksi sejumlah kalangan karena menyentuh persoalan yang lebih sensitif, yakni penghormatan terhadap martabat manusia, masyarakat adat dan mahasiswa sebagai pembawa aspirasi.

Sorotan terhadap insiden tersebut datang dari Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Alhidayat Wajo.

Baca Juga  Gubernur Maluku Bebastugaskan Sespri, Ini Masalahnya!

Politisi PDI Perjuangan asal Seram itu menilai, siapa pun yang berhadapan dengan masyarakat, baik pejabat, ajudan maupun pihak lainnya, tetap memiliki kewajiban menjaga etika komunikasi dan menghormati lawan bicara.

No More Posts Available.

No more pages to load.