Soumokil: Antara Federalis dan Separatis

oleh -602 views
Presiden RMS Chris Soumokil dalam persembunyiannya di Pulau Seram. (Sumber: pbs.twimg.com)

Federalisme bahkan sempat menjadi resmi pasca Konferensi Meja Bundar pada Desember 1949. Dari akhir 1949 hingga 1950, tepatnya Agustus 1950, berdiri Republik Indonesia Serikat (RIS). Republik Indonesia (RI) hanyalah satu dari sekian negara bagian di lingkungan RIS. Namun eksperimen yang dipicu perundingan KMB itu gagal prematur. Pada 17 Agustus 1950, RIS bubar dengan sendirinya karena satu per satu negara-negara bagian itu memutuskan bergabung dengan RI.

Soumokil yang memang punya riwayat kedekatan dengan Belanda menganggap federalisme sebagai jalan tengah yang layak dicoba. Ditambah kecurigaan terhadap dominasi Jawa, federalisme memang memikat banyak kalangan. Soumokil bukan satu-satunya orang yang tertarik dengan gagasan federalisme. Lagi pula, bukan hanya orang-orang yang pernah dekat dengan Belanda saja yang terbuka dengan federalisme. Bahkan Tan Malaka, yang seluruh hidupnya dikejar-kejar polisi kolonial, meyakini konsep Federasi Aslia yang cakupannya merentang dari Asia Tenggara hingga Australia.

Baca Juga  Polresta Ambon Tetapkan Tiga Tersangka Pengeroyokan Anak di Tihu, Terancam 5 Tahun Penjara

Namun, eksperimen bersejarah itu memang harus tertelan oleh realisme politik yang lebih berpihak pada gagasan negara kesatuan. Segala yang berbau kolonialisme, di negara-negara pasca-kolonial, dengan mudah diidentifikasi sebagai musuh. Identifikasi yang sampai batas tertentu, punya alasan psikis yang tidak bisa diremehkan: trauma kepada kolonialisme.

No More Posts Available.

No more pages to load.