“Saat engkau datang ke Mina, apakah semua keinginanmu sirna?” tanya Imam Junaid al-Baghdadi lagi.
Dan laki-laki itu menjawab: “Tidak.”
“Berarti engkau belum pernah mengunjungi Mina,” lagi-lagi Imam al-Baghdadi menjelaskan.
Imam pun menasihati, saat di Mina lemparkan semua pikiran-pikiran kotor yang menyertai, segala nafsu badani, dan semua perbuatan tercela.
Cita-Cita
Mina dalam bahasa Arab berarti cita-cita. Artinya, untuk menggapai cita-cita luhur dan derajat yang tinggi di sisi-Nya, manusia harus mampu mengendalikan hawa nafsunya agar tunduk dan patuh hanya kepada Allah.
“Kemudian ketika engkau melempar jumrah, apakah engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang menyertaimu?” tanya Imam Junaid lagi.
“Tidak!” lelaki itu menjawab yang sama.
“Berarti engkau belum melempar jumrah,” ujar Imam Junaid.
Lalu beliau menasihati, lemparkan semua pikiran-pikiran kotor dan segala nafsu badani, kerendahan dan kekejian dan perbuatan tercela lainnya. Melempar jumrah merupakan lambang perlawanan manusia melawan terhadap penindasan dan kebiadaban.
Di Mina manusia harus dapat membebaskan dirinya dari setiap perbudakan, membuang ketamakan, dan mengalahkan sifat kebinatangan.
Ali Syariati dalam bukunya berjudul “Haji” menyebut ada tiga berhala yang harus dilawannya, yaitu: berhala yang ada di Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah.










