SUATU ketika Imam Junaid al-Baghdadi mendapat kunjungan dari seseorang yang baru saja pulang menunaikan haji. Meski ritual haji telah ia jalani, orang ini belum menunjukkan perubahan perilaku apa-apa dalam hidupnya.
Beliau pun banyak bertanya kepada lelaki itu. Salah satunya jejaknya di Muzdalifah dan Mina.
“Ketika engkau pergi ke Muzdalifah dan mencapai keinginanmu, apakah engkau sudah meniadakan semua hawa nafsumu?” tanya Imam Junaid al-Baghdadi.
“Tidak!” jawab orang itu.
“Berarti engkau tidak pernah ke Muzdalifah,” ujar Imam Junaid.
Imam Junaid Al-Baghdadi adalah seorang ulama besar yang semasa hidupnya bermukim di Baghdad.
Nama lengkapnya Al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid Abu Qasim al-Qawariri al-Khazzaz al-Nahawandi Al-Baghdadi As-Syafi’i.
Beliau lahir di Nihawand, Persia, tetapi keluarganya bermukim di Baghdad, tempat ia belajar hukum Islam mazhab Syafi’i , dan akhirnya menjadi qadi kepala di Baghdad.
Beliau mempelajari ilmu fiqih kepada Abu Tsur al-Kalbi yang merupakan murid langsung dari Imam Asy-Syafi’i.
Saat di Muzdalifah, Imam Junaid menasihati, redamlah semua hawa nafsumu. Akuilah segala kesalahan dan mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian mengumpulkan senjata untuk menghadapi musuh utama manusia yaitu setan.










