Tentang Kamu dan Waktu

oleh -188 views

Senja namamu, seelok pula rupamu. Lelaki sabar dengan sejuta pesona yang dapat menggetarkan hati para turunan Hawa, yang mana banyak gadis yang diam-diam menyebut namamu dalam setiap doa mereka kepada sang pemilik kehidupan. Berbeda halnya dengan diriku, kadang kehadiranmu pun kuanggap sebagai figuran yang tak berarti.

“Teh lagi, Mbak?” Seseorang bertanya, memakai seragam abu-abu usang yang kini memegang poci di tangan ringkihnya. Aku menatap dia nyalang, tersenyum samar seperti orang gila. Bodoh memang, sempat menganggap dia adalah kamu.

Fatamorganaku terlalu tinggi ya, Senja? Dalam hati aku merutuki diriku sebagai perempuan terbodoh sepanjang abad.

Aku mengangguk pasrah, biarlah kantung kemihku membengkak akibat cairan yang kuteguk secara berlebihan. Atau, sebentar lagi aku akan menderita diabetes?

Ah, aku tak peduli lagi, yang penting bukan sejenis alkohol yang kuteguk saat ini. Lihat, aku menuruti perkataanmu Senja ….

Baca Juga  Pertamina Naikkan Harga BBM Nonsubsidi, Pertamax Turbo Tembus Rp19.400 per Liter

Jadi, kapan kamu kembali? Tak tahukah kamu, aku tercekik oleh rindu yang kini mencengkeram kuat dadaku. Aku tercekik oleh perasaan sesalku terhadapmu.
Dan aku, perempuan yang sudah kehilangan urat malunya untuk sekadar memohon agar kekasihnya kembali lagi.

Lalu, perhatianku tertuju pada sosok wanita berkerudung yang membawa seorang bayi dalam buaiannya. Ia cantik, wajahnya bersinar cerah, rona kemerahan alami menghinggapi kedua pipi putihnya. Dia berjalan ke arahku dengan senyum yang tak pernah memudar.