“Mbak Santhy bukan?” Perempuan itu bertanya ramah. Dan aku mengangguk acuh menanggapinya, “Duduklah,” kataku singkat. Lalu perempuan itu duduk berhadapan denganku, bibirnya mendesis pelan saat bayi itu merengek akibat terbangun dari tidurnya.
“Ada apa Anda ingin bertemu dengan saya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Kalimat terpanjang yang pernah kuucapkan kepada orang asing. Aku seorang introvert yang tak suka banyak bicara, apalagi sekadar berbasa-basi dengan orang baru. Bukan tipikalku sama sekali.
Aku menatap tajam perempuan di depanku ini. Ia masih diam, saling meremas kuat jemarinya. Mengedarkan segala pandang, berada di kafe yang tergolong nostalgia di Yogya merasa agak nyaman dengan suasananya. Apalagi, tempat ini menyimpan banyak kenangan dengan Senja–kekasihku yang menghilang entah ke mana. Salahku juga, sudah membuat air mata berharga seorang lelaki menetes akibat ulah bejatku sendiri berselingkuh dengan adik iparnya–Angkasa Mada Syailendra. Tapi takkan lagi untuk saat ini dan seterusnya.
“Mbak kenal Mas Senja ‘kan?” Kata perempuan itu. Aku melotot tajam, responsku sungguh tanggap saat nama kekasihku disebut.
“Ada apa? Apa kau mengenalnya? Tahu keberadaannya? Apa kau sudah membaca blog pribadiku?” Cecarku dengan segala rasa ingin tahu tinggi. Wanita itu mendadak diam, bibirnya seakan kelu untuk membuka. Aku makin gemas dibuatnya.




