Tentang Kamu dan Waktu

oleh -191 views

Aku keluar dengan hati dipenuhi gelora api. Baranya kian terasa, sampai-sampai wajahku harus bermandikan peluh keringat. Ingat Senja, kalau kamu dulu berjuang mati-matian mempertahankan hubungan ini, sekarang kamu tak lagi berjuang sendirian.
Kamu tak akan lagi berjalan dengan satu kaki, melainkan dua kaki, kita bisa berjalan normal. Aku yakin, memang sudah saatnya kuperjuangkan dirimu. Kembalilah Senjaku …

Hari demi hari terus berlalu, bulan demi bulan terus berganti. Hingga aku kembali di titik awal, di mana Januari tahun kedua aku mencarimu.
Dihujat perempuan tak tahu malu pun aku terima, benar katamu dulu, kita tidak akan bisa menuruti setiap perkataan orang lain demi hidup kita.

Baca Juga  Pertamina Naikkan Harga BBM Nonsubsidi, Pertamax Turbo Tembus Rp19.400 per Liter

“Mbak.”
Seseorang menepuk bahuku, perempuan yang sama dengan Angkasa di samping wanita ini.
“Ada apa kalian ke sini? Mau menyadarkanku, kalau dia istri Senja?!”
Angkasa menarik wanita itu ke belakang tubuhnya, seakan ingin melindungi wanita itu dari suatu bahaya di depannya.
“Sudah San, kita di sini tidak ingin berdebat dengan kamu. Lebih baik, ikut kami,” kata Angkasa.

Pada akhirnya aku mengikuti kedua sejoli itu, membawaku entah ke mana. Sampai aku tersadar dari lamunanku.
Berada di tanah lapang dengan ratusan nisan di atasnya.