“Tak bisakah kau menjawab? Apa kau bisu?!” Kugebrak meja bundar itu, membuat dia sedikit tersentak dari lamunannya.
“Maaf Mbak … saya harus mengatakan ini semua … Mas Senja suami saya, tolong jangan ganggu dia lagi … saya mohon …” wanita itu berlutut di hadapanku. Dan aku hanya terkulai lemas, tulang keringku seakan meleleh dan lembek seperti jeli, tak bisa kugerakkan. Mataku mendadak sulit terpejam sekadar berkedip. Rasanya terlalu berat saat beban yang kubawa ditarik paksa tiba-tiba.
Entah sejak kapan, air mata ini mendobrak keluar, bibirku gemetar, gigiku bergemelatuk hebat hingga terdengar nyaring. Kurasakan wanita itu sudah duduk kembali di hadapanku. Tangannya hendak meraih kedua telapak tanganku yang langsung kutepis.
“Kau pikir aku percaya, hah?! Senjaku tak akan pernah pergi dari hidupku! Kau tahu? Kekasihku itu orangnya setia, selalu menjaga komitmen yang ia jaga! Selama ini, wanita cantik yang selalu mengantre untuk mendapatkannya selalu ditolak. Dan kau … dengan seenak jidatmu berkata, jika Senja adalah suamimu. Mana urat malumu, hah?!” Makiku.
Batas emosiku sudah mencapai ubun-ubun. Dadaku naik turun akibat rasa panas yang menjalar hingga ke ulu hati. Rasa sakit akibat merasa terselingkuhi menyeruak keluar dalam dada.




