Wanita itu gemetar, wajah ayunya tak lagi melukiskan senyum. Hanya isakan yang makin keras dapat kudengar. Wajahnya memerah, kedua tangannya menyumpal rapat bibirnya.
“Saya tidak berbohong, lihat cincin ini.”
Ia pun memperlihatkan jari manis yang di mana tersemat cicin emas putih di sana. Aku tertawa sumbang, meyakinkan diriku jikalau ini hanya sandiwara belaka.
“Kalau begitu, di mana Senja? Aku ingin bertemu langsung dengannya! Aku ingin memastikan jika kau hanyalah pembual yang ingin memisahkan kami berdua!”
Kulihat, wajahnya memucat. Perempuan itu menggigit bibirnya kuat hingga memutih. Tatapannya meragu ke arahku, sementara aku makin tertawa penuh kemenangan.
“Kau bohong.”
Aku tersenyum culas memandangi wajahnya yang kian memucat. Aku pun meletakkan beberapa lembar ratusan ribu di meja bundar itu, “Hiduplah dengan baik, bukan dengan menyebarkan berita palsu seperti ini, Nona!” Kataku. Tak banyak kata lagi, aku pun bergegas pergi dari kafe nostalgia ini.
Bukan, bukan, bukan. Jika kalian mengiraku pengecut karena takut dengan pemaparan fakta wanita berkerudung itu. Hanya saja, aku mendadak sesak saat suasana masa lalu terasa di kalbuku.
Senja Angkasa Rajendra. Di mana kamu sekarang sayang?




