Tiga Puisi Ayu Palupi

oleh -28 views

Apa kabarmu yang merindu?

Hujan turun pelan di genteng rumah,
setiap tetes seperti namamu
yang jatuh dan pecah di lantai.
Aku ambil sapu,
kumpulkan pecahan-pecahan itu,
tapi yang tertinggal hanyalah basah.
Rindu memang begitu,
tak pernah bisa disapu bersih

============

Hujan

hujan datang tanpa kata
membasahi atap rumahku
yang sudah lama tak berdinding

airnya turun pelan
seperti bisik yang lupa
mengapa harus diucapkan

daun-daun menadah
dengan tangan terbuka
lalu menangis diam-diam

aku berdiri di pintu
mendengar
hujan menyapu debu
di dalam dada

tak ada yang hilang
tak ada yang bertambah
hanya basah
yang merata

dan di ujung jalan
lampu warung masih menyala
kuning pucat
menunggu orang pulang

Baca Juga  Pemkot Ternate Hibahkan Aset ke Kejari, Wali Kota Tekankan Tertib Administrasi dan Penguatan Sinergi

===========

Secangkir Kopi Pahit

Kopi hitam itu tertawa, menyaksikan jemarinya terbakar pelan.
Ia mengaduk cangkir bukan dengan sendok, melainkan dengan kenangan.
Bahagia hanyalah uap yang menguap sia-sia.
Dan di pusaran air yang bergejolak oleh jari telunjuk itu,
ia masih berharap menemukan wajahmu,
meski yang tersisa hanyalah secangkir kosong yang semakin dingin

========

No More Posts Available.

No more pages to load.