Dalam badendang, dilantunkan nyanyian Maluku, pantun berbalas, serta menjadi ruang dialog dan penyelesaian persoalan antarwarga. Tak jarang, dalam suasana penuh kekeluargaan itu, warga yang sebelumnya memiliki persoalan saling berpelukan dan memaafkan.
Nilai inilah yang kemudian dipertegas pada puncak perayaan 31 Januari melalui makan patita bersama sebagai simbol rekonsiliasi dan kebersamaan.
Tradisi ini secara resmi telah dilaksanakan sejak tahun 1948, pada masa pemerintahan almarhum Matias, dan tidak pernah terputus hingga kini sebagai sejarah hidup yang terus diwariskan kepada generasi penerus.
Wawali Ambon: Selaras dengan Visi Ambon Manise
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta, S.Sos, menegaskan bahwa Pesta Tradisi 31 Januari memiliki makna mendalam bagi kehidupan sosial masyarakat Ambon.
“Pesta tradisi ini mengajarkan nilai persaudaraan, kebersamaan, dan toleransi. Tradisi badendang, nyanyian Maluku, pantun berbalas hingga makan patita adalah simbol hidup nilai saling menjaga, saling memaafkan, dan saling menguatkan,” ujar Ely.
Ia menilai nilai-nilai tersebut sejalan dengan visi Ambon Manise sebagai kota yang inklusif, toleran, dan berkelanjutan. Ely juga mengajak masyarakat agar bijak menyikapi arus informasi dan tidak mudah terprovokasi isu-isu yang dapat merusak harmoni hidup orang basudara.










