Wanita di Laundromat Itu Memakai Louboutin

oleh -35 views

Laila menunduk. “Maaf,” ujarnya lirih.

“Nah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Pekerjaanku memang tidak untuk semua orang. Ini bukan tentang transaksi di atas ranjang. Melainkan tentang seni mendengarkan hal-hal apa yang tidak bisa dikatakan atau dilakukan para lelaki pada pasangan mereka.” Ia mengedipkan mata. “Dan itu mahal”. Ia melirik Laila.

Laila berusaha untuk tidak bertanya lagi, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. “Maaf, boleh saya bertanya, apa Anda menyukai pekerjaan Anda?” tanya Laila malu-malu. Rasa penasarannya lebih besar dari kemampuan menahan diri. Wanita itu mengangkat bahu.

“Pekerjaan adalah pekerjaan dan kau tidak harus menyukainya untuk menjadi seorang profesional. Tapi, ya, terkadang aku bertemu pelanggan yang menyenangkan. Yang sopan dan tubuhnya wangi dan hanya minta ditemani mengobrol. Tentu saja itu lebih bagus. Aku hanya menjadi seorang pendengar yang baik, memberi komentar yang tepat di saat yang tepat, dan bam! Setidaknya tiga ratus dolar itu.”

Ia melanjutkan, “Sepertinya aku lebih cocok jadi psikolog,” ia terkekeh.

Baca Juga  Pemkab Malra Lepas Dua Jamaah Haji, Diminta Jaga Nama Baik Daerah

Laila manggut-manggut dan merenung lama. Mesin pengering berdengung pelan di sudut, sementara wanita itu sibuk mengetik dan membaca sesuatu di ponselnya. Laila memperhatikan jam dinding. Ia teringat salah satu gambar lukisan yang pernah dilihatnya entah di mana. Lukisan itu berisi sebuah jam yang meleleh seperti mentega di atas kue panekuk.

No More Posts Available.

No more pages to load.