Visi Bang Ozan: Masohi untuk Semua
Sebagai Bupati, Zulkarnain menegaskan bahwa kepemimpinannya akan berdiri di atas tiga fondasi utama:
- Pelayanan publik yang adil dan inklusif – dari pelayanan kesehatan hingga pendidikan di daerah terpencil.
- Transformasi ekonomi berbasis potensi lokal – pertanian, perikanan, dan UMKM yang terintegrasi dengan pasar digital dan regional.
- Reformasi tata kelola pemerintahan – birokrasi yang cepat, bersih, dan responsif.
“Masohi bukan hanya ibu kota, tapi juga simbol dari persatuan dan semangat membangun. Kita ingin menjadikan Maluku Tengah sebagai kabupaten yang solid, kuat secara ekonomi, dan sehat secara sosial,” kata Zulkarnain dalam pidato usai pelantikannya.
Warisan Sukarno dan Tanggung Jawab Sejarah
Maluku Tengah bukan sembarang kabupaten. Diresmikan langsung oleh Presiden Soekarno, kabupaten ini menyandang nama besar dan sejarah panjang. Nama “Masohi” diberikan Bung Karno sendiri, lengkap dengan semboyan legendaris: “Jangan jemu mendaki kalau mau ke puncak cita.”
Bagi Zulkarnain, kutipan itu bukan sekadar slogan, tetapi amanah sejarah. Ia bertekad menjadikan kepemimpinannya sebagai kelanjutan dari semangat pendiri bangsa—membawa Masohi menjadi pusat peradaban Maluku yang berpijak pada budaya, namun terbuka pada kemajuan.
Zulkarnain Awat Amir adalah wajah baru di panggung pemerintahan daerah, tapi bukan pemain baru dalam perjuangan sosial-politik. Dengan latar belakang aktivis, intelektual, dan jaringan nasional yang kuat, ia hadir sebagai pemimpin yang membawa semangat kolaborasi dan inovasi. Masohi kini berada di tangan anak kandungnya sendiri—yang bukan hanya pulang kampung, tapi pulang dengan misi besar untuk membangun. (Dino Umahuk)









