Tenggelam

oleh -1 Dilihat

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pegiat Sosial

Saya masih terlalu kecil untuk memahami cerita Ayah tentang tenggelamnya kapal Tampomas II di perairan Masalembo akhir Januari 1981. Kapal bekas yang memuat seribuan penumpang itu karam setelah terbakar. Memori saya hanya menyimpan suara-suara dari sebuah kaset yang belakangan dibeli Ayah. Pita coklat panjang dalam kemasan berbentuk segi empat dengan dua roda kecil di tengahnya itu selalu saya putar dan dengar saban malam.

Pengunguman kebakaran oleh Kapten Abdul Rivai, tangisan si kecil Vita yang terpisah dari orang tuanya, teriakan-teriakan panik para penumpang yang bercampur dengan doa-doa yang melirih, debur ombak dan seruan putus asa – semuanya masih membekas seolah-olah saya ada di buritan Tampomas. Saya tak tahu kaset itu hanya “rekaman drama” tentang tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di laut Indonesia. Sebuah fiksi. Yang saya tahu, kapal itu tenggelam dan hanya menyisakan bilur-bilur duka.

Baca Juga  Rektor Unpatti Tegaskan Kampus Harus Jadi Motor Solusi Pembangunan Maluku Berbasis Sains dan Teknologi

Frasa “tenggelam” dalam ingatan saya kala itu hanya tentang kapal. Tenggelam berarti segala sesuatu yang “masuk” ke dalam laut. Beragam benda mati maupun hidup. Tetapi yang “terbesar” hanya Tampomas. Kala berseragam merah putih, samar-samar saya mendengar cerita tentang kapal besar nan mewah, Titanic yang tenggelam gegara menabrak bongkahan es. Lalu saya mulai membaca roman “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” punya Hamka yang sempat dituding Pramoedya Ananta Toer sebagai jiplakan dari karya Jean Baptiste Alphonse Karr ; Sous les Tilleuls. Tenggelam masih didominasi cerita kapal.