Dua tahun lalu, saya mengunjungi sebuah desa pantai di pesisir Sahu, Halmahera Barat. Kenaikan air laut dalam periode puluhan tahun membuat warga terpaksa memindahkan rumah mereka ke dataran yang lebih tinggi. Kantor desa dan sebuah gedung Pustu tak lagi bisa digunakan karena sudah tergenang air laut. Garis pantai hilang puluhan meter. Cerita yang sama saya dapati ketika mengunjungi Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate. Dulu, ketika para tetua suku Wayoli pertama kali datang, Pulau Tifure dan Gurida masih “satu”. Karenanya pemukiman warga ada di Tifure dan kebun-kebun mereka ada di Gurida. Mereka berjalan kaki di atas hamparan pasir setiap hendak berkebun. Saat ini, kedua pulau itu telah terpisah oleh selat dengan kedalaman air laut sekitar tiga meter. Warga harus berperahu ketika akan ke kebun mereka di pulau Gurida.
Machmud Ichi, jurnalis yang getol mengabarkan kerusakan lingkungan dan memotret nasib pulau-pulau kecil memberi saya informasi yang sama. Di Maluku Utara, ada beberapa pulau kecil yang terkena dampak abrasi serius dan diperkirakan akan tenggelam jika kenaikan permukaan air laut makin menggila beberapa dekade mendatang. Pulau-pulau itu antara lain, pulau Lelei di Kayoa Halmahera selatan, pulau Kolorai dan pulau Tabailenge di Morotai serta pulau Pagama di Kepulauan Sula.




