Hingga cerita tentang Atlantis yang misterius, sebuah kota yang hilang dan dilukiskan tenggelam sebagaimana esai Plato dalam “Timaeus” dan “Critias” mengubah saya dan yang “tenggelam” itu. Berabad lamanya perdebatan tentang Atlantis tak pernah surut. Terjebak antara mitos dan sains. Kebenaran berpilin dengan geomitologi – ilmu yang mencermati pengamatan terhadap fenomena alam oleh orang-orang pra literasi. Letak Atlantis yang tenggelam karena gempa dan banjir besar itu menurut Plato ada di sebuah selat. Tak jelas dimana. Berbagai simpulan menyebut laut tengah, laut hitam hingga segi tiga Bermuda sebagai lokasi Atlantis. Belakangan muncul pula temuan “Sunda Land”, sebuah benua gabungan pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membenarkan temuan itu meski tak menjamin apakah Atlantis ada di situ.
Ilmuwan Brazil, Arysio Nunes Dos Santos yang mengamati kesamaan budaya, luas wilayah, cuaca, kekayaan alam dan sebaran gunung api malah meyakini Atlantis adalah Indonesia dengan poros pada kepulauan Natuna di Riau sebagaimana Ia narasikan dalam bukunya ; “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Localization of Plato’s Lost Civilization”. Tokh, misteri Atlantis tak terpecahkan. Tetap menjadi sebuah alegori. Bagi saya, Atlantis adalah kota atau pulau yang “tenggelam”. Berbeda dengan kapal.




