Tenggelam

oleh -1 Dilihat

Lembaga Antariksa Amerika sudah merilis pernyataan bahwa satu-dua meter yang menaik itu hanya batas bawah. Pada 2018, satu penelitian besar mendapati fakta jika efek pemanasan global membuat laju pelelehan es di Antartika mengalami kenaikan tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir. Antara tahun 1992-1997, lapisan es di Antartika kehilangan sekitar 49 miliar ton es setiap tahun. Angka ini melonjak fantastis pada periode 2012-2017, dimana lelehan es mencapai 219 miliar ton.

Perubahan iklim yang terjadi selalu dikuasai ketidakpastian. Sebagian besar ketidakpastian itu ada pada tindakan manusia. Tindakan apa yang akan dilakukan dan kapan tindakan itu – untuk mencegah atau setidaknya menunda perubahan drastis kehidupan di planet ini. “Jenis adaptasi yang paling efektif adalah yang berbasis lokal. Jika anda kembali ke 7000 tahun yang lalu, anda dapat melihat bahwa orang-orang mengambil tindakan secara lokal dan mereka percaya kemanjurannya, mereka menginisiasi sendiri dan tidak menunggu instruksi dari tempat lain”. begitu pendapat Patrick Nunn, Professor Geografi di University of The Sunshine Coast yang juga menulis buku ; “World in Shadow, Submerged Lands in Science, Memory And Myth”.

Baca Juga  Redam Bentrokan Patahuwe-Lisabatas, Polres SBB Kerahkan 92 Personel Gabungan

Sayangnya adaptasi yang lokal itu mulai dilupakan. Hutan bakau yang bisa mencegah abrasi, kini hanya ditemukan di majalah-majalah lingkungan dalam bentuk foto yang suram. Kita menggantungkan harapan pada kemajuan sains yang justru kerap dibungkam perbedaan pandangan. Asumsi dan proyeksi tentang apa yang sebaiknya dilakukan kadang terbungkus keraguan. Sarat dengan kepentingan politik dan ekonomi. Dan netra kita dipaksa menatap air laut yang makin menyesaki pantai dan daratan. Kita hanya memahami penyebab kenaikan permukaan air laut karena lelehan es tapi kita gagal “membatasi” penyebab utama benua es itu meleleh.