Tenggelam

oleh -1 Dilihat

Banyak literatur sains yang menyebut penyebab utama dari “tenggelamnya” sebuah daratan entah kota atau pulau disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut. Tentunya selain dampak dari bencana geologi. Kita mungkin percaya jika kenaikan air laut itu akan berimplikasi pada bencana bagi kemanusiaan di abad ini. Tetapi sebenarnya, permukaan air laut telah naik sejak 15.000 tahun lalu ketika berakhirnya zaman es. Es di daratan yang mencair mengakibatkan permukaan air laut naik sekitar 120 meter antara sekarang dan saat itu. Fenomena ini akan terus berlangsung sepanjang kita tak berhenti “merusak”.

Ironisnya, kita selalu memposisikan diri sebagai penonton. Mirip dalam bioskop, kita mengamati dengan sendu kematian spesies akibat pemanasan global, terumbu karang yang rusak, pantai yang makin digigit abrasi dan pulau-pulau yang hilang dalam sunyi. Kita jadi lupa bahwa kita ada dalam film itu. Mengalami segala kengerian bersama hewan yang mati dan kerusakan alam yang kita produksi. John Ruskin – sosiolog Inggris – menyebut dalam anomali perubahan iklim, kita masih terjebak dalam : “Sesat pikir menyedihkan”.

Baca Juga  Polda Malut Amankan 86 Perempuan di Tempat Hiburan Malam, 3 Diduga Korban TPPO

Laut akan jadi pemusnah yang masif dan sistemik jika kita tak berhenti “memanaskan” bumi. Saat ini, rata-rata kenaikan permukaan air laut menyentuh angka 1,2 meter dan bisa mencapai 2,4 meter pada akhir abad ini. Statistik ini membuat kita terlena dan berpikir ; masih butuh waktu yang lama. Kenaikannya juga hanya satu-dua meter. Sebuah kekeliruan. Karena kenaikan permukaan air laut berbanding lurus dengan bertambahnya emisi gas rumah kaca. Pembakaran hutan, penggunaan bahan bakar minyak bumi dan batubara yang berlebihan dan pencemaran laut adalah beberapa di antara tindakan manusia yang mempercepat peningkatan gas rumah kaca. Bumi makin panas. Perubahan iklim memberi efek domino yang ajek.