Aku berinisiatif membelikanmu air mineral dingin, karena kau tahu kamu tidak pernah membawa air minum sendiri dari rumah karena alasan berat, dasar lelaki. Kulihat kamu sedang membuang air bekas kain pel di sekolah dekat wasfatel lantai bawah.
“Ini ambil minumnya, sengaja aku beliin.” Aku menyerahkan sebotol air mineral dingin yang tadi kubeli di kantin kepadanya.
“Makasih Dri.” Balasmu. Emir, Emir. Tanpa mengucapkan terima kasih aja aku sudah bahagia dengan kamu menerima pemberianku. Bentuk perhatian-perhatian kecilku kepadamu.
Semakin kesini, rasanya semakin sulit saja melupakanmu. Bahkan aku tak perduli posisinya yang sudah berdiri di hatimu. Aku memilih untuk tetap pada pendirianku untuk menyayangimu, memendam perasaanku kepadamu.
Bagiku, pembicaraan singkat kita beberapa bulan lalu ibarat pedang tajam. Kau tidak pernah tahu bahwa aku seterluka itu. Kau tidak akan mau repot-repot untuk sekedar memikirkanku, karena memang kamu tidak pernah tahu.
Aku-pun seolah bodoh dengan sengaja mendekatkamu dengannya, mencoba menyakiti diriku dengan cara yang kubuat sendiri. Mungkin itu sebagai pelampiasan rasa sakitku saja atau mungkin satu langka untuk mematikan rasa? Agar tidak ada lagi rasa nyeri yang hinggap di dada ketika kamu membicarakannya




