Disaat menurut laki-laki lain kerja bakti adalah tugas para perempuan saja, kamu tidak begitu. Kamu ikut turun tangan mengambil sapu lalu menyapu tiap-tiap bangku yang di tiap-tiap barisan. Kamu juga ikut mengelapi kaca dengan kanebo yang sengaja kau bawa dari rumahmu. Kamu juga turut membersihkan meja-meja yang kotor karena bekas coretan pulpen atau tip-ex yang dilakukan oleh tangan-tangan jahil. Kamu bahkan tidak sungkan untuk mengambil air menggunakan ember di kamar mandi laki-laki lalu membawanya ke kelas dan mengepel lantainya dengan tanganmu sendiri.
“Dri tolong perasin pelannya, biar aku aja yang ngepel.” Perintahnya kepadaku pelan. Aku menurutinya dengan memeraskan pelan yang diangkat.
“Rajin banget sih Mir.” Ucapku. Dia bahkan terlalu rajin untuk ukuran anak laki-laki. Ketika sebagian anak laki-laki yang lain malah asik bermain bola di lapangan sekolah, kamu malah asik membantu bersih-bersih. Kamu memang tidak akan ada bandingnya dengan mereka. Kamu berbeda.
“Jadi anak sekolah ya harus rajin lah Dri. Nanti kalo males-malesan mau jadi apa.” Katamu sambil mengelap keringat yang mulai bercucuran mengenail pelipis matamu. Aku yang melihat itu berinisiatif mengambilkan tissue yang kebetulan kusimpan di dalam tas sekolahku.
“Aku ambilin kamu tissue ya, tuh liat keringetnya banyak banget. Kalo capek sini gantian dulu.” Omelku kepadanya. Aku tahu sebenarnya dia sudah lelah. Ya memangnya siapa yang tidak lelah jika melakukan semua itu. Namun dia terlalu berkepala batu. Tidak baik mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah katamu kepadaku.
“Ngga usah ini sebentar lagi selesai kok. Yang ada juga kamu dari tadi pasti capek. Mending kamu duduk aja di depan kelas.” Lagi-lagi malah dia yang menyuruhku untuk duduk berdiam diri saja.




