adalah kamu tentang risalah hati
adalah kamu tentang semua intuisi
adalah kamu untuk segala persoalan yang tak akan pernah aku mengerti
adalah kamu,
sosok yang kuanggap berbeda
adalah kamu,
sosok yang selalu ingin ada di setiap doa
adalah kamu,
perjalanan yang membuatku enggan berhenti
adalah kamu.
Dapat berbicara sesuatu denganmu adalah hal yang paling aku sukai. Aku suka ketika kamu membicarakan klub sepak bola jagoanmu yang menang tanding semalam. Aku suka ketika kamu berbicara dengan lantang di depan kelas sambil mempresentasikan hasil kerjamu. Aku suka ketika kau sedang berbicara tentang ramainya komedi putar yang ada di sepanjang jalan menuju sekolah ketika malam hari. Aku suka ketika kamu berbicara tentang impian-impian yang akan kau capai ketika besar nanti. Tapi tidak untuk saat ini, tidak ketika kamu membicarakan tentang dia.
“Adri, Dri, Dri, Dri.” Panggilmu kepadaku dengan raut wajah bahagia seolah habis mendapat kupon undian.
“Kenapa sih?” Tanyaku penasaran. Aku penasaran apa alasan yang membuat wajahnya berseri-seri.
“Semaleman aku sama dia chatingan terus ngga berhenti-berhenti. Ah seneng banget deh pokoknya.” Jawabnya masih dengan wajah berseri-seri. Mendengar jawabannya, ada perasaan yang membuat hatiku sedikit nyeri. Bahwa ternyata bukan aku alasan dibalik bahagianya.
“Asik dong ya, kan aku udah bilang dibawa asik aja.” Ucapku kepadamu dengan wajah yang tak kalah senangnya. Siapapun tolong jangan lepaskan topeng itu dulu, setidaknya hingga habis obrolan ini. Kadang aku benci berpura-pura bahagia untuk sesuatu yang bahkan tidak aku rasakan, apalagi aku dapatkan.
“Iya ini aku udah jalanin sesuai saran kamu. Makasih banget banget banget pokoknya. Kalo ngga ada kamu yang bantuin pasti aku sama dia ga bakal kaya gini.” Kamu berterima kasih padaku yang kubalas dengan kekehan dan jawaban sama-sama.




