Emir, untuk semua perbincangan kita, aku suka membahas semuanya, segalanya tapi tidak untuk yang satu ini. Tapi memangnya aku punya hak apa? Aku mulai menyadari bahwa aku memang bukan bahagia yang kau cari. Karena jika kita tidak bisa menjadi alasan seseorang untuk bahagia, jangan jadikan diri kita sebagai penghalang kebahagian seseorang untuk bahagia. Dan aku mencoba untuk melakukan itu, meski sakit, meski aku tahu itu sulit.
Aku pernah memutuskan untuk berhenti. Ketika kupikir aku sudah berhasil membuang jauh-jauh perasaanku, perasaan yang tak pernah aku mengerti, perasaan yang sering berganti, perasaan yang membuatku bimbang sendiri. Setelah habis sudah tidak ada lagi topik tentangmu selama 3 bulan ini, karena kuyakini rasa ini telah pergi. Ternyata aku hanya mencoba berhenti lalu dikalahkan kembali.
Segala cara telah aku lakukan mulai dari menghapus pesan-pesanmu di ponselku hingga menghapus daftar hal-hal yang kamu sukai, semua itu masih belum ampuh untuk melupakanmu. Kenyataannya aku masih kembali disini, dengan hati yang utuh. Lagi-lagi untukmu, untukmu yang tidak pernah tahu.
Aku kembali melirik jam dinding yang kini menunjukan pukul 2 kurang delapan belas menit. Aku telah menghabiskan empat puluh dua menit hanya untuk mengingat-ingat tentangmu. Namun seperti yang kubilang tadi, aku selalu menyukainnya bila itu tentangmu. Aku mulai mengambil ponselku dan membuka galeri fotoku. Ada salah satu foto yang terkunci disana. Ingin tahu apa isi di dalamnya? Semua itu tentangmu. Foto-foto candidmu yang kuambil secara diam-diam diwaktu-waktu tertentu, foto kita berdua yang kudapat dari hasil zoom dari foto kelas kita beramai-ramai yang memang kebetulan posisi kita yang berdekatan. Aku melakukan semuanya karena aku terlalu takut untuk memintamu foto berdua denganku.
Di jam-jam produktif seperti ini aku kembali menemukan tulisan yang pernah aku peruntukan untukmu tentang usahaku yang mencoba melupakanmu sebelum kegagalan itu akhirnya datang menghampiri.




