Anatomi Negara Predatoris

oleh -30 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Tubuh predatoris tidak selalu berisik. Ia tampil rapi, berbicara tertib, dan berdiri di balik hukum yang tampak sah. Ia tidak menerkam dalam satu lompatan, melainkan menggigit perlahan, hingga kehilangan terasa wajar.

Pembedahan ini ditujukan pada watak kekuasaan yang kehilangan tujuan moralnya. Sebab seperti tubuh manusia, tubuh predatoris memiliki mata, telinga, mulut, tangan, perut, jantung, dan kaki. Semua organ itu pada mulanya diciptakan untuk melindungi kehidupan bersama. Namun ketika naluri pemangsaan mengambil alih, seluruh tubuh berubah menjadi mesin yang hidup dari apa yang seharusnya dijaganya.

Mata predatoris adalah organ pertama yang berubah. Ia tidak lagi mencari manusia yang harus dilindungi. Ia berputar seperti burung pemangsa di langit, meneliti setiap jengkal tanah, setiap hasil panen, setiap keringat yang masih dapat dipungut. Dan yang terlihat bukan lagi warga negara, melainkan sumber daya yang bisa diekstraksi.

Telinga predatoris tidak tuli. Ia justru mendengar dengan sangat baik. Tetapi seperti pemburu yang hanya mengenali suara mangsa, ia lebih peka terhadap bisikan keuntungan daripada jeritan penderitaan. Keluhan rakyat terdengar samar, sementara pujian dan kepentingan elite menggema keras di rongga pendengarannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.