Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan Nasa’i disebutkan Rasulullah SAW berpuasa pada awal Zulhijah, hari Asyura, dan beberapa puasa sunah lainnya. Keutamaan sepuluh hari pertama Zulhijah juga dijelaskan melalui hadis berikut:
نص الحديث:
« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ .
Artinya: “Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Zulhijah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”,“.
Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan amal pada sepuluh hari pertama Zulhijah. Bahkan para sahabat menanyakan apakah keutamaannya juga melampaui jihad di jalan Allah.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa nilainya sangat besar, kecuali bagi orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali. Oleh karena itu, puasa Zulhijah sering dipandang sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal dengan cara yang relatif ringan tetapi memiliki nilai besar di sisi Allah Swt.
Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah Menjelang Iduladha
Selain puasa umum pada awal bulan Zulhijah, terdapat dua amalan yang paling sering dijalankan menjelang Iduladha, yakni puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.









