Dikatakannya, jalan lingkungan (lapen) di Kecamatan Sirimau dikerjakan pada tujuh lokasi dengan total panjang sekitar tiga kilometer. Lokasi terakhir di daerah Batu Tagepe, dikerjakan kurang lebih 900 meter.
“Sekitar 25 meter mengalami cacat permukaan dikarenakan setelah pekerjaan pelapis aspal dilakukan, terjadi curah hujan yang tinggi,” katanya.
Sopalauw beralibi bahwa curah hujan yang tinggi beberapa bulan ini, juga menyebabkan bencana alam di sejumlah kawasan di Ambon, yakni banjir longsor, serta ambruknya jembatan dan talud di sejumlah daerah. “Kondisi alam ini tidak bisa kita hindari,” katanya beralasan.
Sopalauw mengakui pekerjaan proyek yang diambil dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari Perseroan Terbatas Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI/Persero) itu, saat ini masih dalam masa pemeliharaan.
“Jadi kalau terjadi kerusakan akibat bencana alam, kami akan langsung berkoordinasi dengan pihak penyedia jasa agar segera melakukan perbaikan,” paparnya.
Sopalauw juga bilang, untuk kerusakan yang terjadi masih bisa diperbaiki dengan biaya yang tidak terlalu besar.
Dia menyebutkan, perbaikan akan tetap dilakukan di permukaan jalan yang rusak.
Pekerjaan ini, lanjut dia, masih berjalan sesuai kontrak pekerjaan. Masih ada tahap masa pemeliharaan selama enam bulan.









