Dalam momentum ini, bagi Mohdar, penyalaan api obor pada malam Ela – ela di halaman depan Masjid Kesultanan Ternate, sebagai wujud kebersamaan dalam melestarikan ritual malam lailatulkadar.
Karena sejak dulu, lanjut dia, tradisi tesebut tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat Ternate. Di mana, hampir setiap rumah, lingkungan atau masjid, melaksanakan ritual tersebut.
“Mereka gunakan batang pohon pisang sebagai medianya, kemudian getah pohon Agatis (damar), Poci (Palita), obor yang terbuat dari bulu (bambu) dan diisi minyak tanah,” terang Mohdar.
Menurut dia, itu semua mengandung arti nur atau cahaya. Masyarakat adat memeriahkan malam Ela – ela sebagai suatu penghormatan terhadap malam lailatul qadar.
“Dan tradisi ini tetap dijaga hingga anak cucu mereka. Semoga torang (kami) samua bersama Wali Kota Ternate tetap menjaga budaya, adat se atoran, agar negeri para Sultan ini selalu bercahaya,” harapnya.
Senada, Kepala Bidang Adat se Atoran Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Farida A. Syah menambahkan acara ritual ini patut dilestarikan untuk generasi muda.
Sebab, menurut dia, Ela – ela termasuk ritual keagamaan dan budaya orang Ternate yang sudah terpelihara lama.
“Meski ini masih kondisi Covid-19, mari kita tetap terangi negeri Kie se Gam (gunung dan kampung) ini agar tetap terlihat Gam ma Cahaya (kampung bercahaya). Semoga Kota Ternate semakin maju, mandiri dan Andalan bersama Wali Kota kita,” tutupnya.









