“Kita berusaha beroperasi secara efisien mungkin, kita menekankan production cost, kita melakukan integrasi produksi kami secara berkesinambungan dari mining upstream sampai ke midstream, sehingga kami banyak melakukan efisiensi dalam hal operasional, sehingga bisa punya buffer yang cukup untuk antisipasi perubahan harga tersebut,” paparnya.
Seperti diketahui, harga nikel sempat mencatatkan rekor tertinggi pada 2022 lalu. Bahkan, sempat menyentuh US$ 100.000 per ton. Harga ini melonjak 250% dalam dua hari berturut-turut. Kondisi tak biasa ini mengakibatkan Bursa LME memutuskan untuk menangguhkan perdagangan nikel pada Selasa (08/03/2022) lalu.
Namun sejak itu, harga nikel terus menurun ke level US$ 16.000-an per ton. Pada Mei 2024 harga nikel kembali melonjak, sempat menyentuh US$ 21.615 per ton. Ini merupakan rekor tertinggi selama setahun terakhir.
Tapi kini, mengutip Trading Economics, harga nikel pada Rabu (17/07/2024) berada pada level US$ 16.457 per ton. Harga nikel ini masih turun 21,03% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu (yoy).
sumber: cnbc











