“Misalnya, bermain curang, berpihak dan lainnya. Bahkan, ada isu selama Pileg kemarin, banyak bilang penyelenggara yang curang,” tuturnya.
Salah contoh, kata dia, bahwa di Indonesia ada perusahaan korporasi besar, bahwa dia berafiliasi dengan partai politik apa. Misalkan, bicara tentang kecurangan pada Pemilu kemarin, mestinya patut ditanya, pers kita sudah sehat atau tidak.
Hal yang sama ditambahkan Jurnalis Kabarpulau.com, Mahmud Ichi mengatakan, ketika bicara tentang demokrasi, maka berbicara tentang hak setiap warga negara Indonesia. Tentu, sebagai pilar demokrasi, para jurnalis mempunyai tanggungjawab.
Pemilu dimaksudkan sebagai peristiwa yang sangat penting sebagai suatu kedaulatan rakyat di suatu negara demokratis.
“Maka pertanyaannya, jurnalis berada di mana. Sebagai pilar ke empat demokrasi, saya kira jika gagal melakukan peliputan mendalam dan kritis, tentu berbahaya dalam demokrasi,” tegas Mici, sapaan akrabnya.
Sebagai jurnalis senior di AJI Kota Ternate, ia bilang, kita punya pengalaman Pemilu di Maluku Utara.
“Sejak tahun 2004, saya sudah meliput tentang Pemilu. Tetapi paling mengerikan itu, Pemilu tahun 2007. Karena di tahun itu, kita sudah merasakan kerasnya Pemilu dengan proses dualisme di Maluku Utara,” tukasnya.










