Empat Puisi Oliena Ibrahim

oleh -2 Dilihat

Empat Rupa

Yang menyala lebih  kobar daripada api. Lebih meredakan daripada air.

1/

Telapak tangan terbuka menghadap wajah, sepuluh jari menengadah: “Oh, hamba yang begini simpuh, saksi tiada keagungan lebih agung darimu.”

2/

Berbalik,  menghadap tanah. Ini tangan tolak bala: “Kembalilah dari murka ke murka.”

3/

Mengeratkan tangan kiri dan kanan. Telah kukuh berpuluh-peluh. Di atas sajadah, dimasaknya doa: “Tuhan, tidaklah tubuh ini hanya seonggok daging yang menunggu, merangsek jadi debu.”

4/

Tangan itu lebih dekat dengan mulutnya: “Bau melati, bunyi katrol di sebelah dinding, dan sebuah lonceng. Bismillah… bersihkan tubuhku dan lewati jalan menuju sumur itu.”

Ibu, kurasakan seseorang dalam kepalaku.

Baca Juga  Hari Lahir Kejaksaan ke-81, Kajari Halsel Pimpin Tabur Bunga di Pelabuhan Kupal

“Dia: kematian yang mencintaimu, Nak.”

Seram Selatan, April 2020

=======

Mayat

1/

Pagi putih

Seorang perempuan memenggal kepala

Meletakkannya di tungku

Mayat-mayat berjalan tanpa kepala

2/

Lelaki itu membawa sajadah

Melangkah masuk ke lorong-lorong

Bertemu mayat-mayat tanpa kepala

3/

Malam telah matang

Keduanya saling membunuh dengan cinta yang berlarat-larat

Seram Selatan, April 2020

========

Merobek Tubuh Puisi

Aku ingin merobek tubuh puisi

Yang menggigil di jiwa-jiwa yang sepi

Lalu kubiarkan tangan siapa pun

Merogoh jantungnya yang hampir kehilangan degup

No More Posts Available.

No more pages to load.