Dari dialog tersebut, ternyata dapat diketahui bahwa pendidikan dasar di Jerman tidak mengenal apa itu kurikulum.
Vicky menjelaskan, orientasi belajar di Jerman memuat sepuluh orientasi dasar pembelajaran dan pengajaran. Paling utama dan pertama disebut adalah orientasi pada bidang olahraga (sport).
Lalu dilanjut nutrisi-kesehatan, kecintaan bahasa lokal, interaksi sosial-budaya, estetika-musik, agama-etika, matematik, sains-teknologi, ekologi, dan terakhir media pendukung.
Kalau kita cermati, komposisi urutan tersebut cukup berbanding lurus dengan Indonesia. Olahraga bagi pendidikan dasar Jerman adalah prioritas utama.
Saat ditanya lebih lanjut, Vicky menjelaskan bahwa orang Jerman percaya dan meyakini kalau unsur gerak dan aktivitas yang sehat memiliki peranan penting dalam pendidikan dasar. Dan olahraga menjawab kebutuhan hal tersebut.
Perlu dipahami juga, olahraga selain memberi manfaat bagi tubuh, pada taraf kompetensi juga sangat berdampak pada pikiran kedewasaan.
Sebab, di dalam olahraga yang sering dan selalu ditekankan adalah profesionalitas, sportivitas, dan kedisiplinan. Karakter tersebut cukup relevan untuk dijadikan dasar dalam pendidikan karakter tingkat awal.
Berkaca dari hal tersebut, Indonesia masih sangat jauh dari ideal. Berapa banyak sekolah di Indonesia yang untuk ketersediaan lapangan saja begitu terbatas? Dipercaya atau tidak, terkadang lapangan sekolah beralihfungsi menjadi lahan parkir.









