Dan, yang lebih menyedihkan lagi, dari sekadar pergerakan tank dan kapal induk adalah runtuhnya etika di koridor kekuasaan Pentagon. Di panggung politik AS, kita menyaksikan sebuah drama humanisme yang kasar. Donald Trump dan JD Vance, dengan lisan yang tak terkendali, menyerang Paus Leo XIV.
Sang Paus, yang berbicara atas nama nurani dan perdamaian global, direndahkan hanya karena ia berani mengkritik “kegemaran” AS untuk perang.
Inilah puncak dari arogansi yang melampaui batas kewajaran. Ketika kritik seorang pemimpin spiritual dianggap sebagai kerikil pengganggu, maka sebenarnya yang sedang dilawan bukan sekadar Paus, melainkan nilai-nilai ketuhanan itu sendiri.
Trump seolah sedang “menantang” langit, juga telah merasa bahwa kekuatan material dan supremasi militer adalah “tuhan baru” yang bisa mendikte takdir manusia.
Para pengikut Paus dan seluruh insan yang masih memiliki nurani harus sadar: mereka sedang menghadapi era di mana kuasa tanpa etika merasa bisa menggantikan peran Tuhan.
Bab Al-Mandeb mungkin akan tertutup, ekonomi mungkin akan runtuh, namun yang paling mengerikan adalah ketika hati nurani para pemimpin dunia telah membatu, menutup pintu bagi dialog dan membuka lebar pintu bagi kehancuran bersama.










