“Tidak ada cara lain bagi pemerintah untuk melibatkan berbagai peran, privat sektor, NGO, akademisi, dan masyarakat. Pemerintah juga harus punya keputusan politik untuk mengalokasikan APBD bagi pembangunan literasi,” tegasnya.
Ia menyebut Maluku adalah provinsi dengan kekayaan alam melimpah, tetapi masih tergolong daerah miskin.
“Apakah kami harus miris? Tidak. Justru ini tantangan. Saya bersama 11 bupati/wali kota di Maluku punya visi yang disatukan, bekerja dalam semangat kolaborasi dan sinergi,” ungkapnya.
Bagi Lewerissa, literasi bukan hanya soal membaca, tetapi jalan untuk mengangkat harkat hidup masyarakat kepulauan.
“Kalau SMA/SMK/SLB di Maluku belum punya perpustakaan, harus diadakan. Dan keluarga-keluarga pun harus mendorong anak-anak untuk belajar di rumah,” pesannya.
Jakarta Buka Pintu Kolaborasi
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa ibu kota terbuka untuk kerja sama lintas daerah.
“Jakarta adalah pusat interaksi nasional. Dengan taman literasi seperti ini, kami ingin menunjukkan keterbukaan dan kosmopolitanisme kota ini. Hari ini, kita berkolaborasi dengan Maluku, dan ke depan dengan daerah lain,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi bukan sekadar berbagi buku, melainkan juga pengalaman, gagasan, dan mimpi. “Gubernur Maluku tadi memberikan tiga buku tentang Banda dan Saparua. Itu menandakan kolaborasi sudah berjalan. Bahkan beliau mengundang saya ke Banda. Saya belum pernah ke sana, mudah-mudahan bisa,” katanya.









