HJF telah menyelesaikan dua lini produksi pada akhir 2022. Lini produksi ke-3, ke-4, dan ke-5 telah diselesaikan masing-masing pada Januari 2023, Februari 2023, dan Maret 2023. Sisanya, tiga lini produksi selesai pada Mei 2023.
Realisasi rata-rata produksi HJF pada Agustus-Desember 2023 dilaporkan mencapai 8.508 ton FeNi, 7% dari kapasitas yang ditetapkan.
Perseroan juga mencatatkan kenaikan produksi mixed hydroxide precipitate (MHP), yang merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik, sebesar 50%, dari 42.310 ton pada 2022 menjadi 63.654 ton pada 2023.
“Kenaikan produksi tersebut mencerminkan fokus strategis perusahaan untuk memperluas kemampuan produksinya dan memperkuat posisi di pasar,” ujar Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy, dikutip dari siaran pers.
Seiring dengan peningkatan penjualan, Harita mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 20%.
Pada 2023, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp5,62 triliun, meningkat dari Rp4,67 triliun pada 2022.
Roy mengatakan, pertumbuhan ini mencerminkan pengelolaan operasional yang efektif dan pertumbuhan yang stabil di tengah pasar yang fluktuatif, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) untuk laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai 170% sejak tahun fiskal 2020.









