Iran Setelah Khamenei: Ilusi Kejatuhan Sebuah Rezim

oleh -606 views

Ia menghadapi perang panjang melawan Irak, sanksi ekonomi yang melumpuhkan, isolasi internasional, konflik kawasan, dan gelombang demonstrasi yang datang silih berganti. Namun setiap kali diperkirakan akan jatuh, negara itu justru menemukan cara untuk bertahan.

Iran tampaknya dibentuk oleh krisis—dan karena itu ia terbiasa hidup di dalamnya.

Dari luar, banyak orang melihat Ayatullah Ali Khamenei sebagai pusat dari seluruh sistem kekuasaan. Maka ketika kabar kematiannya beredar, muncul kesan bahwa Republik Islam Iran kehilangan jantungnya, seolah-olah negara itu berdiri hanya karena satu orang masih bernapas.

Pandangan semacam itu terlalu menyederhanakan Iran.

Republik Islam Iran tidak dibangun sebagai kekuasaan personal yang runtuh bersama wafatnya seorang pemimpin. Ia dirancang sebagai jaringan institusi yang saling menopang: lembaga-lembaga ulama, Dewan Ahli yang memilih pemimpin tertinggi, birokrasi negara yang terus berjalan, serta sistem politik yang memungkinkan kesinambungan kekuasaan bahkan dalam situasi krisis.

Baca Juga  Blokade yang Datang Terlambat

Sistem ini dibangun dengan kesadaran sederhana: manusia akan mati, tetapi negara harus tetap hidup.

Karena itu kematian seorang pemimpin tidak otomatis berarti kejatuhan sebuah rezim.

No More Posts Available.

No more pages to load.