Ribuan orang menyaksikan pawai ini. Usai pawai, Presiden Sukarno selaku Panglima TNI menganugrahkan “Bintang Gerilya” kepada semua anggota Divisi I, II, III, IV, Divisi Sumatra dan Divisi Kalimantan.
Parade ini juga dihadiri seluruh anggota komisi militer UNCI yang tiba di Yogyakarta pada Rabu pagi dengan menggunakan pesawat UNCI yang dipimpin Brigjen Prior.
Minggu kedua Desember 1949 terbentuk Panitia Penyelenggaraan Sidang Pemilihan dan Pelantikan Presiden R.I.S. Panitia tersebut diketuai oleh mr. Wongsonegoro dengan wakilnya, mr. Samsoeddin dan Kolonel Paku Alam. Sedangkan anggotanya terdiri dari: Ruslan Abdoelgani, Ki Hadjar Dewantoro, Djanoe Ismadi, mr. A.G. Pringgodigdo, mr. Mohamad Yamin, Pangeran Poerwokoesoemo, Roedjito, Pangeran Poerbojo, K.R.T. Honggowongso, dan overste Soeharto, serta R.M. Harjoto sebagai Sekretaris.
Pada 17 Desember jam 9 pagi Presiden R.I.S. Ir. Soekarno dilantik dan diambil sumpahnya di Pendopo Kepatihan Istana Yogyakarta. Setelah itu diadakan defile pasukan TNI di alun-alun Yogya yang dipimpin overste Soeharto (‘De Locomotief’ [Semarang], Jumat 16-12-1949).
Demikian yang dapa saya sarikan dari koran-koran Belanda yang terbit semasa itu. Dari laporan ini dapat dikesan peran penting tiga orang yang nama mereka hampir selalu muncul dalam laporan-laporan media dalam periode kritis yang dihadapi oleh pihak Republik di Yogyakarta dan sekitarnya. Mereka adalah: Jendral Sudirman, Sultan Hamengku Buwono IX, dan Letkol Soeharto.










