Lentera Padam

oleh -918 views

Setelah pergi dari rumah. kami menyusuri pinggiran kota. aku hanya berbekal lampu petromaks serta buku pelajaran adikku. Ya, dia masih pelajar, duduk di bangku kelas 5 Sdn. dan aku sangat menyayanginya. 🙂
Dalam perjalan yang tak tentu arah. Entah dimanakah bisa melabuhkan kebutuhan papan kami yang hanya sekedar memejamkan mata. Namun Tuhan berkata lain. kami terlempar jauh ke pertokoan kota yang tidak berpenghuni.
Toko ini posisinya di emperan Gang Argabel. Jarang dilewati oleh pribumi. Kondisi seperti ini sangat menguntungkan bagiku. tapi adikku harus menempuh jarak 200 meter untuk pergi ke sekolah. Aku percaya ketangguhannya lebih pajang dari jarak itu sendiri.

Di penghujung senja yang nyaris memudar. kaki kami yang sudah berasa kebas terpancang di pintu toko. lalu kami merangsek ke dalam ruangan utama. Di sini gelap, berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba.
Aku memercikan api dengan geretan. membakar ujung sumbu lentera berbentuk patromak. Satu-satunya penerang di kediamanku, dalam pencahayaan yang minim. Dia sedang membaca buku fisika, kegemaran membacanya melebihi teman usianya.

Baca Juga  Kuota Haji Tual Anjlok, Pemkot Harap Penambahan di 2027

Malam bertandang, aku terkesiap mengais sebuah rezeki yang Tuhan titipakn di kantung mereka. Aku tidak mengharap belas kasih. Alih-alih menjadi pengemis tanpa ada usaha. Aku bocah kenker kronis yang selalu berjuang mengamen di pinggir jalan.

No More Posts Available.

No more pages to load.