Lentera Padam

oleh -916 views

Jika kamu melihat lebih dekat apa yang menyelubungi tubuhku. Kaos putih lusuh. Di bagian depannya ada garis-garis bekas kerak air hujan yang sudah menguning. Apabila ada benda yang tersangkut di kaosku pastilah robek ia buat. Sejoli kakiku beralas sendal jepit yang pernah putus. Biar tetap bisa kupakai ujungnya kuganti dengan sebatang paku.
Kepalaku menunduduk ke bawah. Pandanganku mengurung sesuatu yang berada dalam genggamanku: Sebentuk tabung mungil terbuat dari kaleng. Ya, Aku mengejar gemerincing uang receh malam ini.

Deru mesin yang dibungkus besi dan kaleng. suaranya terdengar bising melesak kedalam telingaku. Bising. Melintas di depan mataku. Mereka saling berebut biar cepat sampai ke tempat yang ia buru.
Aku di sini berdiri di persimpangan jalan sesekali kulirik Traffic Light berwarna hijau terang.
Di menit berikutnya. Arus jalan raya padat merayap. mengular panjang. Lalu kebahagiaan datang menghampiriku
“Nananananaaa …” Aku melantunkan sepenggal lagu. Bernyanyi di depan kaca yang tertutup sempurna. Ia tidak memeduikanku. Seandainya mereka tahu betapa nyeri saat aku mengularkan suara. pastilah ia mengibaku.

Baca Juga  Jumhur Hidayat dan Wajah Baru Politik Adaptif

Bibirku serasa diiris dengan pisau tumpul. Rasa nyeri merambat ke dalam selonggok otakku berdenyut seperti hendak pecah!
tubuhku nyaris kehilangan kesadaran. terhuyung sedikit. namun tetap terjaga kesetabilanku.
Aku melipir ke belakang. lalu berhadapan dengan jendela kaca yang terbuka sempurna.
“Lalalalalalalaaa …” Aku kembali menyenandung lagu sumbang keluar dari mulut kankerku. Suaranya terdengar berantakan. patah-patah, tidak jelas, namun aku tetap bersyukur menerima pemberian kekuranganku dari Tuhan.

No More Posts Available.

No more pages to load.