Terlihat tanganku sibuk membelah roti menjadi kecil. Lantas sejumput roti ini berada di atas sumbuh. Api dan minyak tanah meghasilkan kepulan asap. menghitamkan secuil rotiku. Kemudian ujung roti menepel di badan dinding bercat putih. tanganku meliuk kutulis kalimat tanya.
“Kamu kenapa tidak menangis melihat keadaanku?” Tulisan ini terlihat hitam pudar, tapi bisa dibaca.
“Tangisan itu, cuma untuk orang mati. kak Tera masih hidup belum jadi mayat.” Sektika mataku berkaca-kaca rentetan kalimatnya menyentuh hati kecilku.
Dia selalu mampu menyemangati sisa hidupku. Dia adalah alasan tak pernah menyerah menjalankan ujian terbesar dari Tuhan. kanker mulut. Sisa umurku tinggal hitungan jam saja.
“Jika nanti aku meninggalkanmu, aku akan selalu merindukanmu” Kali terakhir bibirku mungacap kata yang menyerupai sembilu menyayat otakku. Air mataku tiba-tiba mengalir menyusuri tebing pipi. Dia beringsut mendekatiku. Jemari mungilnya menyeka linangan air mataku.
Kanker mulut ini buatku berasa lemas kehabisan daya. Seluruh energi yang bergulung dalam tubuhku terlempar keluar. Aku melayang di udara mendarat dalam pelukan adikku.
Jiwaku lenyap diraih sang pencipta.
—
Mentari pagi meninggi. Cahayanya menerobos masuk melalui sela jendela kaca menyilaukanku. Aku tersentak. jantungku berasa melopat ke tenggorokan. Tuhan masih memberiku umur pajang. Dan aku tidak merasaksn kanker ganas yang setiap detik menggerogoti mulutku. Perlahan kubuka katup mataku memandang lentera padam.









